Rekomendasi dari PBB dan Hanura, Ismael Koto Genggam Tiket Pilkada Kota Solok 2020

 

Pergerakan senyap (silent movement) yang dilakukan Bakal Calon Walikota Solok Ismael Koto, SH, akhirnya membuahkan hasil.

Pamong senior yang menanjak di bisnis dan politik yang dikenal sebagai figur jago lobi dan problem solver tersebut, akhirnya mendapatkan rekomendasi untuk maju di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Solok 9 Desember 2020. Ismael Koto mendapatkan dua rekomendasi sekaligus dari dua partai yang memiliki 4 kursi di DPRD Kota Solok. Yakni dari Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Surat Keputusan dari PBB tertuang dalam SK No: SK.PP/083/Pilkada/2020, yang ditandatangani langsung Ketua Umum Prof Yusril Ihza Mahendra dan Sekjen Ir Afriansyah Noor, M.Si.

Meski sudah melengkapi syarat minimal 4 kursi (masing-masing dua kursi dari Hanura dan PBB) untuk maju di Pilkada Kota Solok, langkah Ismael Koto menggaet partai lain akan terus berlanjut. Bahkan Partai Gerindra Kota Solok diprediksi akan kembali ke “pangkuan ibu pertiwi”, atau kembali ke genggaman Ismael Koto yang merupakan mantan Ketua DPC Partai Gerindra Kota Solok. Sebelumnya, Partai Gerindra telah memberikan rekomendasi kepada petahana yang juga Ketua DPK PKPI, Reinier Dt Mangkuto Alam dan Andri Maran, DPC PDI Perjuangan. Rekomendasi ini bersamaan dengan suksesi DPC Partai Gerindra Kota Solok kepada mantan Anggota DPRD Kota Solok, Dalius dan Sekretaris Yosri Martin.

Ismael Koto menyebutkan, saat ini, dirinya sedang menunggu dua rekomendasi lagi dari dua atau tiga partai peraih dua kursi di DPRD Kota Solok. Meski begitu, dirinya enggan mengungkapkan dua atau tiga partai tersebut. Tapi, saat disebutkan Partai Gerindra, Ismael mengaku partai yang pernah dipimpinnya di Kota Solok tersebut, menjadi bidikan khusus.

“Silakan tunggu dalam beberapa hari mendatang, partai-partai apa saja yang akan bergabung dalam koalisi. Tapi, karena ditanyakan Partai Gerindra, tentu saja, kami sangat berharap Pak Prabowo dan DPP Partai Gerindra memberikan rekomendasi kepada saya sebagai kader, bukan ke eksternal,” tegasnya.

Ismael Koto juga mengucapkan apresiasi kepada segenap pengurus DPC, DPD/DPW dan DPP PBB dan Hanura atas kepercayaan terhadap dirinya dan Balon Cawako Edi Candra untuk tampil di kontestasi Pilkada Kota Solok 9 Desember 2020. Terutama terhadap Ketua DPC Hanura Kota Solok Rusnaldi dan Korwil Hanura Sumbar Marwan Paris, serta Ketua DPC PBB Kota Solok Hendra Saputra dan jajaran kepengurusan kedua partai tersebut.

“Banyak hal yang kami bicarakan terkait dukungan kedua partai ini. Terutama terkait komitmen membangun Kota Solok ke depan, dan peran Parpol dalam mewujudkan tujuan positif tersebut,” tegasnya.

“Turbulensi” berikutnya, jabatan Ismael Koto sebagai Ketua DPC Partai Geridra Kota Solok dicopot dan berpindah ke Dalius. Pemindahan mandat ini juga diikuti dengan keluarnya SK Rekomendasi DPP Gerindra untuk Reinier-Andri Maran. Di titik ini, berarti Ismael Koto-Edi Candra tidak bisa maju, karena “kendaraan” Parpol pengusung sudah “lepas”.

Tak berhenti sampai di situ, “turbulensi” berlanjut dengan tampilnya Anggota DPRD Kota Solok dari Partai Golkar, Ramadhani Kirana Putra. Sosok milenial peraih suara terbanyak di Pileg 2019 tersebut dipublikasikan mendampingi Zul Elfian, Walikota Solok saat ini yang sudah mengantongi rekomendasi dari Partai NasDem. Munculnya Ramadhani, menciptakan multi turbulensi di kontestasi Pilkada Kota Solok.

Namun, Anggota DPRD dari Partai Golkar Kota Solok lainnya, Nasril In Dt Malintang Sutan, justru menyebut majunya Ramadhani Kirana Putra menunjukkan sisi gelap politik. Politisi senior Kota Solok yang sudah tiga periode di DPRD Kota Solok tersebut menegaskan, hal seperti ini tidak diajarkan partai. Partai Golkar menurutnya senantiasa mengajarkan dan menanamkan solidaritas sesama anggota partai. Yakni, jika ada rekan sesama anggota partai yang ingin maju, maka akan didudukung dengan segala daya dan upaya. Tokoh adat dan niniak mamak di Kota Solok tersebut, juga menyentil rencana kembali majunya Walikota Solok Zul Elfian di Pilkada 2020. Padahal, sudah menyatakan hanya maju satu periode. Menurut Nasril In, sebagai Walikota yang juga seorang ustadz atau buya, Zul Elfian adalah panutan bagi seluruh masyarakat.

“Tapi, apa yang terjadi? Ini adalah kekecewaan kami di internal Partai Golkar. Sebuah pembelajaran yang sama sekali tidak masuk akal. Jika orang yang menjadi panutan mengingkari janji, kepada siapa lagi kita harus mengambil pedoman. Ini contoh dan pembelajaran yang tidak elok bagi anak kemenakan kita. Generasi penerus kita harus dibekali dengan karakter, etika moral dan komitmen yang kuat,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kota Solok, Ismael Koto, mempertanyakan sikap komentar Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar, Andre Rosiade, Partai Gerindra yang memberikan rekomendasi kepada Wakil Walikota Solok, Reinier, ST, MM, Dt Mangkuto Alam di Pilkada Kota Solok 9 Desember 2020. Ismael Koto menyebut Andre Rosiade bermanuver dan telah berbuat zalim terhadap dirinya. Sebab, Ismael Koto menyatakan dirinya bersama Edi Candra telah jauh-jauh hari menyatakan dirinya maju di kontestasi Pilkada Kota Solok 2020. Lalu, tiba-tiba di saat proses Pilkada berlangsung, beredar kabar bahwa Partai Gerindra akan mengusung calon dari eksternal partai.

Ismael Koto menegaskan, satu hal yang perlu menjadi catatan adalah, hanya dirinya dan bakal calon wakil Walikota Solok, Edi Candra, yang mendaftar di DPC Partai Gerindra Kota Solok. Kemudian, yang ikut konvensi juga hanya dirinya dan Edi Candra. Hasil pendaftaran dan hasil konvensi telah dilaporkan ke DPD Gerindra Sumbar dan DPP Gerindra.

“Usai konvensi, saya sudah ditanyakan tentang kesanggupan saya menyetor bantuan ke partai. Saya menyanggupi nominal senilai Rp 400 juta tersebut. Tapi tiba-tiba ada isu, bahkan foto nominal cek sebesar Rp 700 juta untuk mengambil alih dua kursi DPRD untuk pencalonan Pilkada Kota Solok. Jika memang hal ini ditenderkan atau dilelang, saya minta sebagai pimpinan dan kader, lakukanlah lelang terbuka. Karena saya juga siap, dan tidak merasa kalah dari mereka,” tegasnya.

Ismael Koto juga menegaskan, sebagai pamong senior sekaligus pengusaha yang terjun ke politik, dirinya siap dan memiliki kemampuan untuk bersaing dengan calon-calon lain di Pilkada Kota Solok. Ismael juga menyebut, dirinya selalu masuk di dua besar hasil survei dari lembaga-lembaga survei kredibel. Seperti Indobarometer, Poltracking, Liberty Institute dan lainnya.

Magnet Ismael Koto saat itu, adalah sebagai figur yang sukses di bidang bisnis dan birokrasi. Meski, di gambaran masyarakat Kota Solok saat itu, dirinya lebih diasumsikan sebagai pengusaha kaya yang menggeluti beragam bisnis, seperti agen pelumas dan pemilik sejumlah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) atau sering disebut Pom Bensin. Padahal, di bidang birokrasi, sebagai PNS di Pemkab Solok Selatan, Ismael merupakan birokrat senior yang cerdas dan problem solver (pemberi solusi beragam masalah). Hal itu dibuktikannya, dengan jabatan tetakhir sebagai Asisten 1, Bidang Pemerintahan. Padahal, dirinya hanya sekitar 15 tahun menjadi PNS, sejak diangkat tahun 2000.